Perubahan Kelompok Barang Mewah Yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM)

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 106/PMK.010/2015, telah diubah kelompok jenis barang kena pajak yang tergolong mewah, selain kendaran bermotor, yang dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM). Jenis-jenis barang kena pajak tersebut dapat dilihat di Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 106/PMK.010/2015.

Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan No. 106/PMK.010/2015, ada beberapa jenis barang yang tadinya dikatagorikan sebagai jenis barang kena pajak tergolong mewah yang dikenakan PPn BM, sekarang tidak lagi dikatagorikan sebagai jenis barang kena pajak tergolong mewah yang dikenakan PPn BM.

Di antara barang-barang yang tidak lagi dikatagorikan sebagai jenis barang kena pajak tergolong mewah yang dikenakan PPn BM tersebut, antara lain adalah:

  1. kelompok barang yang terbuat dari kulit atau kulit tiruan;
  2. kelompok permadani yang terbuat dari sutra atau wol;
  3. kelompok barang kaca dari kristal, timbal dari jenis yang digunakan untuk meja, dapur, dekorasi kantor, dekorasi dalam ruangan, atau keperluan semacam itu;
  4. kelompok barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari logam mulia atau dari logam yang dilapisi logam mulia atau campuran daripadanya.

Tadinya kelompok barang-barang tersebut di atas, dikenakan Pajak Penjaualan Atas Barang Mewah (PPn BM) sebesar 40%.

Komentar:

Khusus untuk kelompok pada angka 1 di atas, yaitu barang-barang yang terbuat dari kulit atau kulit tiruan, umumnya berupa tas-tas kulit atau tiruan dari kulit dari merek-merek terkenal semacam Gucci, Prada, Hermes, Louis Vuitton, Armani, Channel, Dolce & Gabbana, Mulberry, Christian Dior, LongChamp,  dsb, yang hanya bisa dibeli oleh-oleh kalangan jet set dan orang-orang yang berduit.

 Apa dampak perubahan tersebut:

Pertama, negara akan kehilangan penerimaan PPn BM sebesar 40% x jumlah nilai impor dari barang-barang tersebut yang masuk ke Indonesia;

Kedua, harga barang-barang tersebut akan turun sebesar 40% dibandingkan dengan harga-harga sebelumnya (tentunya tanpa memperhatikan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang makin terpuruk, yang akan berpengaruh terhadap kenaikan harga barang, terutama barang impor);

Ketiga, karena harganya yang turun sebesar 40%, akan makin banyak perempuan yang membeli tas kulit atau tiruan kulit yang diproduksi rumah-rumah mode terkenal seperti tersebut di atas yang original, ketimbang membeli tas kulit kw2 bikinan Ciabaduyut, Garut, Tajur, atau Sidoarjo;

Keempat, akibatnya, akan lebih banyak perajin-perajin pembuat tas kulit tiruan yang akan di PHK;

Paradigma barang mewah yang dianut pemerintah (baca: Menteri Keuangan), rupanya cukup berubah dengan drastis, padahal bagi sebagian besar orang Indonesia, tetap saja barang-barang tersebut merupakan barang yang “super mewah”.  

About Jaja Zakaria

Nama saya Jaja Zakaria, saya tinggal di Depok, Jawa Barat, kurang lebih 40 km dari Jakarta Selatan. Saya alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogayakarta, dan Opleidings Instituut Financien, Den Haag, Belanda di bidang Hukum Pajak Internasional. Saya pengarang beberapa buku, e-book, dan makalah-makalah perpajakan. Pengalaman saya antara lain pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan Perpajakan dengan Denmark, Mesir, Kanada, Uni Emirat Arab, Kuwait, Turki, Brunei Darussalam, Pilipina, Vietnam, Mongolia, dan Taiwan; dalam Study Group on Asian Tax Administration and Research (SGATAR) meeting; dan dalam Joint Commission Indonesia - China. Saya juga anggota International Word Tax Expert.

Posted on July 24, 2015, in Forum, Topik Perpajakan and tagged . Bookmark the permalink. Comments Off on Perubahan Kelompok Barang Mewah Yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM).

Comments are closed.

%d bloggers like this: