Apa Benar Subsidi BBM Salah Sasaran????

Beberapa tahun belakang ini ramai-ramai orang membicarakan masalah subsidi BBM, mulai dari Presiden sebagai orang nomor satu di negeri ini, para Menteri, para anggota DPR yang terhormat (yang seharusnya mewakili rakyat), para pakar ekonomi, para pengamat, para pengusaha,  dengan gagah berani dan penuh retorika menyatakan di mass media (koran, televisi, majalah), jejaring sosial, pertemuan-pertemuan resmi, bahwa subsidi BBM itu salah sasaran dan diberikan kepada mereka yang tidak berhak,  oleh karena itu harus dicabut. Apa benar demikian???

Pembicaraan mengenai subsidi BBM selalu dan selalu dilihat dari sisi pemakai BBM itu sendiri, tidak pernah dilhat dari sisi lainnya, yaitu para pemilik kendaraan mobil pribadi. Mereka dianggap seolah-oleh penjahat yang telah menikmati subsidi yang haram.

Mari kita lihat kenyataan yang sebenarnya.

Saya ambil contoh saya sendiri. 3 tahun yang lalu saya membeli mobil seharga Rp 160.000.000,00. Dari harga mobil seharga Rp 100.000.000l00 tersebut terdapat komponen-komponen yang mempengaruhi besarnya harga jual mobil ketika saya membeli mobil tersebut. Komponen-komponen tersebut antara adalah sebagai berikut:

a.  Harga Pokok Mobil.

b.   Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% dari harga mobil.

c.   Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM) yang menururt Keputusan Menteri Keuangan untuk jenis kendaran motor roda empat 1.600 cc yang kandungan lokalnya kurang dari 60% sebesar 35% dari harg mobil.

d.   Bea Balik nama sebesar 2,5%.

Total pajak yang saya harus bayar ketika membeli mobil seharga Rp 160.000.000,00 adalah sebesar harga pokok mobil ditambah pajak sebesar 47,5%. Dari harga jual mobil sebesar Rp 160.000.000,00, bagian pajak yang harus saya bayar adalah: (47,5% : 147,5%) x Rp 160.000.000,00 =  Rp 51.525, 423,70. Sedangkan harga mobilnya sendiri sebenarnya cuma Rp 160.000.000,00 – Rp 51.525, 423,70 = Rp 108.474.762,30 saja.

Jadi sebelum mobil saya menenggak BBM bersubsidi, saya telah mensubsidi Pemerintah sebesar Rp 51.525, 423,70 (LIMA PULUH SATU JUTA LIMA RATUS DUA PULUH LIMA RIBU EMPAT RATUS DUA PULUH TIGA RUPIAH TUJUH PULUH SEN). Sudah barang tentu dari uang pajak saya tersebut akan masuk ke dalam APBN dan sebagian dipergunakan untuk membayar gaji Presiden, para Menteri, para anggota DPR, Pegawai Negeri Sipil, ABRI dan Polisi.

Dalam tahun berjalan, saya akan membayar pajak lagi manakala saya menservis mobil saya ke bengkel. Pajak yang yang saya harus bayar adalah 10% dari total tagihan bengkel. Jadi kalau saya dalam satu tahun berjalan mengeluarkan biaya service sebesar Rp 10.000.000,00 misalnya, maka saya harus membayar PPN sebesar Rp 1.000.000,00. Pada saat saya membeli assesori mobil, dan perlengkapan mobil lainnya, misalnya, ban, aki, dsb, saya harus membayar lagi PPN sebesar 10%. Selanjutnya pada waktu saya mengurus STNK, saya harus membayar lagi pajak sebesar antara Rp 2.250.000,00 – Rp 2.50.000,00. Jadi ditahun pertama saja, yang memiliki mobil dengan harga beli Rp 160.000.000,00 harus membayar pajak sebesar kurang lebih Rp 53.500.000,00.

Jika saya menggunakan BBM misalnya satu minggu sebanyak 50 ltr, maka satu bulan saya menghabiskan 200 ltr Premium atau satu tahun 12 x 200 ltr = 2.400 ltr Premium. Jika anggap saja subsidi BBM untuk Perimum seharga Rp 4.500/ltr subsidinya Rp 2.500 (lebih dari dari setengah harga Premium), maka di tahun pertama saya memiliki mobil saya menggunakan subsidi sebesar 2.400 x Rp 2.500,00 = Rp 6,000.000,00 setahun atau hanya sebesar: RP 6.000.000,00 : Rp 53.500.000,00 x  100% = 0,112% dari subsidi yang saya bayar melalui pajak kepada negara.

Kesimpulan dari tulisan saya di atas adalah:

Pertama, berapapun subsidi BBM yang dikeluarkan dilihat dari penggunaan BBM bersubsidi oleh para pemilik mobil pribadi sebenarnya tidak masalah, karena subsidi tersebut akan diserap (recouped) oleh pajak yang dibayar oleh pemilik mobil sehubungan dengan mobil yang dimiliki dan dipakainya.

Kedua potensi kehilangan sumber penerimaan negara akan lebih besar apabila subsidi BBM dihilangkan, daripada subsidi BBM tetap diberikan, dengan asumsi bahwa apbila harga BBM dinaikkan akan banyak anggota masyarakat yang batal membeli mobil. Ambil contoh apabila seluruh Indonesia ada 100.000 orang yang membatalkan membeli mobil dengan harga Rp 160.000.000,00 sebagai contoh di atas, gara-gara harga BBM naik menjadi Rp. 6.500,00/ltr, maka negara akan kehilangan penerimaan pajak sebesar 100.000 x  Rp 53.500.000,00 = Rp 5.350.000.000.000,00 (LIMA TRILYUN TIGA RATUS LIMA PULUH MILYAR RUPIaH). Belum lagi kehilangan penerimaan pajak dalam tahun berjalan dari PPN saat mobil diservis, saat pemilik membeli asessori mobil, saat pemilik memperbaharui STNK-nya. Sedangkan kalau subsidi diberikan jumlah subsidi yang harus dibayar (sesuai dengan contoh) adalah: 100.000 x 2.400 ltr x Rp 2.500 = Rp 600.000.000.000,00 (ENAM RATUS MILYAR RUPIHA) SAJA per tahun.

Ketiga, makin tinggi harga mobil, makin tinggi pajak yang disetor ke negara dan makin sedikit ratio subsidi BBM yang dinikmati pemilik mobil dibandingkan dengan pajak yang disubsidikannya  ke negara sehubungan dengan mobil yang dimilikinya.

Keempat, apa salahnya para pemilik mobil pribadi menikmati subsidi BBM yang tidak seberapa dibanding pajak yang dibayar kepada negara sehubungan kepemilikan mobil pribadinya.

Kelima, kalau mau naikkan harga BBM silahkan saja apabila Pemerintah dan anggota DPR yang terhormat berniat menaikkan harga BBM, tapi mbok cari alasan yang cerdas dan masuk akal, jangan dengan alasan subsidi BBM kurang tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati pemilik mobil pribadi. Apa dikira rakyat itu bodoh semua, sehingga bisa dibodohin dan dibohongi???

Semoga tulisan ini bisa dibaca Bapak Presiden, para anggota DPR, dan para pakar Ekonomi dan para pengusaha (pembela mati-matian BBM non-subsidi).

About Jaja Zakaria

Nama saya Jaja Zakaria, saya tinggal di Depok, Jawa Barat, kurang lebih 40 km dari Jakarta Selatan. Saya alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogayakarta, dan Opleidings Instituut Financien, Den Haag, Belanda di bidang Hukum Pajak Internasional. Saya pengarang beberapa buku, e-book, dan makalah-makalah perpajakan. Pengalaman saya antara lain pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan Perpajakan dengan Denmark, Mesir, Kanada, Uni Emirat Arab, Kuwait, Turki, Brunei Darussalam, Pilipina, Vietnam, Mongolia, dan Taiwan; dalam Study Group on Asian Tax Administration and Research (SGATAR) meeting; dan dalam Joint Commission Indonesia - China. Saya juga anggota International Word Tax Expert.

Posted on April 18, 2013, in Forum, Topik Perpajakan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. aneh masyarakat & orang2 yg makan bangku sekolah tinggi2 koq termakan isu, BBM salah sasaran ya?!? bner2 aneh…!!

  2. yang memang begitulah mas Ilyasa, saya kira mungkin mereka juga ngerti cuman pura2 nggak ngerti demi kepentingan sesaat. Trims loh telah mengunjungi blog saya, ditunggu komentar-komentarnya yang lain.

  3. Wow, awesome blog layout! How long have you been blogging for?
    you made blogging look easy. The overall look of your site is fantastic, let
    alone the content!

  4. Hey there I am so glad I found your web site, I
    really found you by error, while I was searching on Digg for something else, Regardless I am here now and would just like
    to say thanks a lot for a marvelous post and a all round entertaining blog (I
    also love the theme/design), I don’t have time to look over it
    all at the minute but I have bookmarked it and also
    included your RSS feeds, so when I have time I will be back to read a great deal more, Please do keep up the great job.

  5. I was recommended this blog by my cousin.
    I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my problem.
    You are amazing! Thanks!

  6. My family every time say that I am wasting my time here at net,
    but I know I am getting experience all the time by
    reading such nice articles or reviews.

  7. Helpful info. Fortunate me I found your web site by accident, and I’m
    surprised why this twist of fate did not took place earlier!
    I bookmarked it.

  8. If some one wants to be updated with most up-to-date technologies then he must be visit this web page and be up to date everyday.

  9. More than 80,000 individuals enjoyed the carnival atmosphere in Birmingham’s Irish Quarter (around Digbeth
    and Deritend – some of the oldest places of Birmingham), where the
    streets have been closed to accommodate the parade.

%d bloggers like this: